Rabu, 09 Januari 2013

Karl Marx

Karl Marx





Karl Marx

Tulisan-tulisan filosofis, sosiologis, ekonomis, dan politik Karl Marx mempunyai dampak mendalam terhadap praktik politik internasional setidaknya selama dua abad. Mereka juga memiliki pengaruh luas terhadap teorisasi sosial kritis: pemikiran Marx menjadi landasan sekaligus fokus utama tantangan teoritis bagi sebagian besar “teoretisi kritis” abad ke 20. Namun demikian, meski tidak di ragukan lagi bahwa pemikiran Marx sangat berpengaruh, justru sifat yang pasti bagi warisannya itu tetap di perdebatkan. Ada berbagai panafsiran yang sangat kontras dari bacaan “humanis” ysng simfatik hingga berbagai bacaan “deterministik”. Setiap penafsiran membawa konsekuensi yang penting secara teoretisi, retoris, daan hingga politis. Oleh karena problem internasional sulit yang terkait dengan tulisan-tulisan Marx, maka mustahil memberikan interpretasiyang definitif terhadap ide-ide Marx disini. Maka dari itu, fokus dari pembahasan ini sederhana saja, Pertama, memberikan gambaran singkat mengenai konteks tulisan-tulisan Marx. Kedua, menguraikan beberapa konsep kunci terkait dengan karyanya. Ketiga, saya akan menyimpulkan dengan mencerminkan singkat warisan Marx untuk teori sosial kritis abad ke 20.



KEHIDUPAN, TULISAN INTI, DAN PENGARUH

Karl Marx lahir di Trier, Prusia, pada 1818. Awalnya ia belajar di University of Bonn dan kemudian di Willhelm Friedrich-Universitat di Berlin. Setelah menyelesaikan study Doktornya tentang filsafat klasi, ia tinggal di Paris, Brussels, dan akhirnya di London. Perpindahannya sering di dikte oleh berbagai kendala karena hubungannya dengan sejumlah gerakan revolusioner dan jurnal revolusioner. Untuk sebagian besar hidupnya, ia sering bergantung pada teman sekaligus pendukungnya, Friedrich Engels yang juga, setelah Marx meninggal pada 1883, turut mengedit dan menerrbitkan sebagian karya-karya anumertanya, terutama dua volume capital.

Seperti halnya penulis lain yang menulis begitu banyak dan dalam rentang waktu yang sangat panjang, sulit untuk merangkum pikiran Marx dalam seperangkat pandangan tertentu. Sebagian dari argumennya, dan penjelasannya, dan ketertarikannya, bergeser secara signifikan tahun demi tahun. Karya-karya awal Marx cenderung bersifat filosofisdan fokus pada kontroversi-kontroversi yang mengitari perdebatan antara filsuf Helegian dan filsuf “Young Helegian” yang terkait dengan Ludwig Feuerbach (tempat banyak karya Marx mendapat banyak insfirasi). Dalam karya-karya awalnya, misalnya yang berjudul One the Jewish Question (1843), Contribution to a Critique of Hegel’s Philosophy of Right (1943), Economic and Philosophical Manuscripts (1944), These on Feuerbach (1845), dan German Ideology (1846), ia menggarap banyak isu-isu filosofis yang membentuk landasan bagi konsepsi materialis historis tentang manusia, filsafat dan realistis. Ia menerapkan kritik terhadap konsepsi-konsepsi liberal tentang emansipasi, kritik terhadap agama sebagai turunan dari ekploitaasi material, konsep aliensi, dan sikap materialis dialektik melawan Hegel.

Karya-karya berikutnya terfokus lebih eksflisit kepada isu-isu ekonomi politik dan mengkritisi tulisan-tulisan yang disebut “ekonom politik klasik” terutama karya Adam Smith dan David Ricardo. Dalam tulisan-tulisan era ini, terutama Grundisse(1857), The Preface to theContribution to a Critique of Political Economy (1859), Theorities of Surflus Value (1862), dan Capital (jilid 1 diterbitkan pada 1865, jilid berikutnya di terbitkan secara anumerta pada 1885 dan 1894), Marx menetapkan interfretasinya yang terkenal tentang teori tenaga kerja tentang nilai dan mode produksi kapitalis. Saat Marx mencoba memahami hukum dan kontradiksi karakteristik dari sistem kapitalis, maka karya-karya terakhirnya ini lebih jelas megambil nada “ilmiah” (dan beberapa pihak malah bilang “deterministik”).

Selain kontribusinya terhadap filsafat, teori sosial, dan teori politik ekonomi, harus pula di catat bahwa Marx erat terkait dengan berbagai gerakan International Working Men’s Association (atau yang biasa di sebut First Internasional). CommunistManifesto yang ditulis Marx dan Engels (1948), berisi seruan ”Pekerja dari semua negara, Bersatulah!” tentu memainkan peran penting dalam gerakan-gerakan sosialis dan revolusi abad ke-19 dan abad ke-20. Penting juga unntuk di catat, Marx juga bukan hanya seorang filsuf, namun jgua pesrta aktif dalam pergerakan politik pada zamannya.  Theuse of Feuerbach merangkum sentimen “praktis” tentang pendekatan ini : “Para filsuf hanya telah menafsirkan dunia dalam berbagai cara. Namun demikian poinnya adalah untuk mengubahnya” (Marx 1970: 30).


KONSEP-KONSEP KUNCI

Dasar-dasar filosofis bagi teori sosial dan ekonomi Marx berkisar pada duda gagasan inti: pandangan terkotekstual tentang sifat manusia,dan konsepsi materialis secara dialektik dan historis tentang sejarah. Menurut pemikiran klasik,para pemikir liberal mengambil titik awal pengertian bahwa manusia harus difahami sebagai individu rasional otonom yang harus diizinkan untuk melakukan penilaian bebas mereka atas kendala-kendala yang  tidak perlu agar memungkinkan mereka mengikuti dan menempuh kepentingan terbaik untuk diri mereka. Marx justru mengambil pengecualian dari ide liberal tetang sifat manusia itu. Bagi Marx, individu harus di fahami bukan sebagai “individual abstrak”, tetapi sebagai “makhluk sosial” yang secara mendasar terikat dengan lingkungan alam dan kehidupan sosial mereka. Bagi Marx, manusia adala aktor yang dilahirkan secara sosial dan historis, dan yang eksis dalam beberapa set hubungan sosial antara satu sama lain, yang mengkondisikan tindakan dan keyakinan mereka meksi manusia juga mampu menggubah situasi sosial mereka (bukan sebagaimana yang mereka suka, tetapi saat kondisinya memang mamungkinkan). Marx membangun gagasan ini dengan menerima premis dasar pandangan dialektik Hegel tentang sejarah---pandangan bahwa sejarah di kembangkan dari proses negosiasi atas bentuk-bentuk kesadaran yang salign kontras. Namun demikian, berlawanan dengan Hegel, kekuatan pendorong sejarah menurut Marx adalah material, bukannya “ideasional”. Bagi Marx, manusia eksis dalam bentuk historis tertentu dari realitas material. Menurut Marx, konteks material sosial merekalah yang mengkondisikan “kesadaran” mereka. Hal ini bukan berarti baahwa kekuatan-kekuatan material “kasar” dalam sejarah “menentukan” tindakan kita (bukan dalam sikap; “kektika A, maka B”) tetapi bahwa hubungan sosial mereka selalu tertanam secara material, dan bahwa mereka membatasi sekaligus mengkondisikan kemampuan dan pikiran kita untuk interaksi sosial dan tranformasi sosial. Menurut Marx, yang terpenting adalah jika kita menganalisis orang dalam hubungan dengan konteks material historis dan sosial mereka, maka kita dapat melihat peran berbagai kekuatan struktural dan penindasan struktural yang terkandung dalam sistem modern ekonomi kapitalis dan dalam pemerintahan “borjuis demokratis” yang melekat padanya.



Aspek-aspek kunci dari konteks material individu, bagi Marx, adalah “forces of” dan “relations of” produksi (force merujuk pada teknologi dan sumber daya produksi, dan  relations merujuk pada hubungan dengan para pelaku produksi). Kedua kunci ini bersama-sama membentuk mode produksi. Marx berpendapat bahwa, pergeseran telah terjadi dalam mode produksi yang mendasari kehidupan bermasyarakat dari sistem feodal ke mode produksi kapitalis. Ia lalu meprediksi akan ada pergeseran lebih lanjut menuju mode pruduksi komunis dan masyarakat komunis, yang timbul dari kontradiksi inheren dalam sistem kapitalis. Pendorong utama perubahan ini adalah antagonisme kelas yang ada dalam mode produksi kapitalis itu sendiri. Dalam sistem kapitalis, ini mewujudkan diri dalam eksploitasi para pekerja (kaum proletar) oleh kaum kapitalis. Saat para pekerja memperoleh upah hanya cukup untuk memfasilitasi keberadaan minimal mereka, kaum kapitalis berdasarkan posisi kekuasaan mereka dalam mode produksi menyerap nilai lebih  dari produksi-produksi para pekerja, yang mereka sebut sebagai “profit” atau keuntungan / laba.


Salah satu aspek kunci dari mode produksi kapitalis adalah bentuk-bentuk spesifik aliensi yang di kenakan terhadap kaum proletar. Dalam mode produksi kapitalis, pekerja menjadi terasing dari produk-produk yang mereka kerjakan, terasing dari proses pekerjaan, terasing dari “species-being” dan dari sesama pekerja. Alienasi atau keterasingan inididukung oleh sistem ideologi yang di sebarkan masyarakat kapitalis. Melalui hukum, melalui Negara, dan melalui sesuatu yang mirip demokrasi, kaum proletar di pasifkan untuk hidup di bawah kesadaran palsu yang melegitimasi keadaan penindasan mereka dan menyembunyikan eksploitasi ekonomi terhadap kaum proletar. Fase ini lalu diikuti oleh perkembangan kesadaran kelas di kalangan kaum pekerja. Mereka harus menyadari bahwa “kepentingan nyata” mereka bukanlah pada bersaing satu sama lain untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi dalam menantang sistem eksploitasi kapitalis. Di lengkapi dengan perwujudan atas ”deep running” dari sifat konflik kelas, para pekerja harus memahami bahwa setiap perubahan revolusioner akan memerlukan tantangan holistik terhadap kekuatan material / produktif dan ideasional / suprastruktural dalam masyarakat.


Hal ini diperlukan untuk merenungkan konsekuensi dari dorongan kapitalis untuk mendapatkan profit pada skala internasional. Seperti kemudian kaum Marxist (khususnya Lenin) berpendapat, motif profit juga bisa dilihat menjadi pendorong utama imperialisme oleh negara-negara kapitalis. Bagi kaum Marxist, kapitalisme bukan fenomena domestik, tetapi fenomena global.


Banyak perselisihan mengenai apakah Marx berasumsi bahwa akan ada pergeseran yang tidak terhindarkan dalam mode produksi kapitalis menuju komunisme atau apakah aktor-aktor sosial harus mengambil peran aktif dalam mengakhiri mode eksploitasi kapitalis. Seringnya referensi Marx terhadap hukum yang melekat dalam struktur ekonomi politik tampaknya menyiratkan logika yang tak terelakkan terhadap perkembangan itu, meski boleh di katakan penekanan pada hukum (dan ide positivis tentang ilmu pengetahuan) adalah konsekuensi dari penafsiran tertentu Engels terhadap karya Marx secara anumerta. Oleh karena sifat yang tidak jelas terhadap pandangan Marx terhadap tindakan politik, begitu juga tidak jelas kompleks perdebatan tentang apa yang membentuk tindakan politik sah kaum proletar (misalnya dalam konteks Soviet dan China) dan tentang bagaimana perubahan dapat di capai di negara-negara yang kelas pekerjanya enggan mengambil tindakan terhadap elit kapitalis dan negara kapitalis (misalnya Eropa Barat dan Amerika Serikat). Sebagian besar tradisi Marxis dan pemikiran teori kritis abad ke dua puluh fokus pada penanganan terhadap ketegangan dan pertanyaan yang tak terjawab yang muncul dari pemikiran Marx tentang logika sistem kapitalis, kekuatan superstruktural melekat padanya, dan pertanyaan tentang perubahan sosial revolusioner. Tentu saja, pemikiran-pemikiran Gramsci, Mahzab Frankfurt, dan Fost Marxis seperti :Laclau dan Mouffe memiliki semau cara mereka untuk menegosiasikan penafsiran baru tentang ide-ide Marx untuk tujuan tindakan politik emansipatoris dalam konteks tertentu mereka.


Memang, meski kebanyaka teoritisi kritis abad kedua puluh berusaha untuk melampaui kategori-kategori Marx banyak dari mereka khususnya memperluas analisis bentuk-bentuk ideologis atau budaya atas penindasan dan dominasi analisis-analisis ini bisa dilihat sebagai turunan dari—walau juga bisa sebagai elaborasi baru pada analisis awal Marx tenttang keterasingan dan kesadaran palsu dalam masyarakat industri kapitalis. Selain itu, banyak penekanan teoritisi kritis terhadap filsafat sebagai cermin kondisi sosial, dan pada teori yang berhubungan  erat dengan praktik politik, juga memiliki pertalian dengan ide-ide Marx.


Tentu saja, keyakinan besar yang dimiliki Marx dalam kaum proletar sebagai peran perubahan emansipatoris, dan aspek-aspek karakteristik reduksionis dan deterministik atas pikirannya, telah menjadi sasaran serangan oleh teoritisi kritis kemudian. Marx addalah figur pencerahan yang sangat yakin pada perubahan progresif dalam masyarakat sesuatu yang jelas tidak populer di era teori sosial yang sekarang  di mana ide-ide tentang kemajuan, emansipasi dan proyek-proyek politik besar sedang dalam keraguan. Namun demikian, tampaknya tetap adil untuk mengatakan bahwa Marxmasih merupakan acuan penting bagi perdebatan kontemporer. Tidak boleh dilupakan, dalam menangani isu-isu politik dunia seperti globalisasi, beberapa teoritisi masih menganggap penting untuk mempertahankan Marxisme, terutama dalam bentuk “humanis”-nya. Maka dari itu, tampak bahwa pemikiran Marx masih “relevan” meski banyak pernyataan mengenai hal itu pada masa Pasca perang dingin : warisan Marx masih sangat hidup, dan tetap di perdebatkan seperti biasa.



Edkins, Jenny.Vaughan William, Nick.Teori-teori Kritis-Menantang pandangan Utama Studi Politik Internasional.pustaka-baca:2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar